Artikel Tokoh dan Pemikiran

AGUS SALIM DAN IDE KHILAFAH

Written by matapadi

Agus Salim adalah pemimpin Sarekat Islam (SI) yang berasal dari Sumatera Barat. Seperti telah diketahui secara umum, bahwa setiap keluarga di Sumatera Barat sejak kecil telah menanamkan dasar-dasar ke Islaman yang kuat bagi putra-putrinya, termasuk H. Agus Salim sendiri.

Agus Salim menyelesaikan pendidikan menengahnya di sekolah Belanda (sistem Barat) yaitu ELS (Eropeesche Lagere School) dan HBS (Hogere Burger School). Setelah itu ia mendalami ilmu-ilmu ke-Islaman di Makkah selama lima tahun (1906-1911). Dengan demikian, bersatulah dalam diri Salim dua hal yang dalam banyak segi berbeda: Barat dan Islam.

Berbeda dengan pemimpin SI yang lain, terutama Tjokroaminoto yang berlatar belakang pendidikan Sekolah Administrasi pemerintah (OSVIA= Opleidings School voor Inlandsche Ambtenaren) dan tidak mendalami ilmu-ilmu ke-Islaman dari sumber aslinya seperti Salim, Tjokroaminoto lebih menitik-beratkan kepada segi politik Islam, sedangkan agama dianggap sebagai sarana pembantu yang penting bagi kesadaran politik rakyat Indonesia.

Sementara itu, perpaduan antara latar belakang pendidikan dan pergaulan Barat dengan penguasaan masalah-masalah ke-Islaman yang sangat mendalam, telah memungkinkan Salim untuk mengembangkan pemikiran politik dalam Sarekat Islam.

Sebagai pemimpin Islam, kedudukan Agus Salim dalam partai sangat khas. Dia adalah satu-satunya pemimpin SI yang paling mengetahui pemikiran-pemikiran Barat sekaligus yang paling menguasai masalah ke-Islaman dari sumber aslinya, yakni kitab-kitab berbahasa arab.

Kemampuan atas penguasaan ilmu-ilmu ke-Islaman inilah, selain adanya kenyataan praktek-praktek keagamaan dari sebagian masyarakat Indonesia yang tidak sesuai dengan Islam serta ancaman dari penganut Marxisme yang semakin kuat di dalam partai, yang mendorong Salim untuk merumuskan ideologi politik Islam SI di tahun 1921, yang sebelumnya mulai dirintis oleh TJokroaminoto pada tahun 1917.

Rumusan ideologi politik Islam yang disusun oleh Salim menguraikan kedudukan Islam dengan lebih tinggi dari paham-paham yang lain, sebagaimana ditulisnya dalam harian Neratja 27 Oktober 1921: “…segala kebajikan yang ada dalam suatu Islam, ada dalam asa Islamisme itu, sebaliknya suatu kecelaan atau kenistaan atau kejahatan yang ada dalam isme-isme yang lain itu, tidaklah ada dalam asas Islamisme itu”.

Dan, dalam kaitan inilah, di akhir tahun 1925, Agus Salim membentuk wadah persatuan pemuda Islam bernama Jong Islamieten Bond (JIB), dengan tujuan membendung arus pembaratan (western) yang kala itu melanda kaum muda terpelajar. JIB kemudian tumbuh menjadi organisasi yang secara politik amat penting dalam mengisi pemahaman Islam bagi kaum terpelajar berpendidikan Barat, serta menjadi tempat persemaian bagi tumbuhnya generasi kepemimpinan Islam.

Melalui organisasi tersebut, Salim bukan saja dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai pemikir dan pembaharu, tetapi juga dan terutama, mendidik generasi muda berpendidikan Barat untuk “kembali ke Islam”.

Setelah selesai menyusun kembali organisasi SI dengan dasar-dasar ke-Islaman yang semakin jelas, pada tahun 1921 Agus Salim memulai orientasi Pan Islamisme, dengan memimpin Kongres Al-Islam yang pertama di Cirebon pada tahun 1921. Pengertian Pan Islam ini sendiri adalah usaha untuk menyatukan seluruh Umat Islam dalam satu ikatan di bawah kepemimpinan satu Khalifah (penguasa).

Oleh karenanya, dengan pengertian itu, maka perjuangan umat Islam Indonesia merupakan pula bagian dari perjuangan umat Islam sedunia yang dalam hal ini adalah perjuangan umat Islam untuk membebaskan diri dari penjajahan bangsa asing. Akan tetapi, alih-alih menyatukan dan mengurangi perdebatan, justru forum ini makin melanggengkan perseteruan sengit antara Muhammadiyah dan Ahmad Soorkatti (Al-Irsyad) dengan ulama tradisional yang diwakili oleh KH Wahab Chasbullah dan KH R. Asnawi Kudus.

Pada masa itu yang dianggap sebagai Khalifah adalah negeri Turki di bawah Pemerintahan Salim I, yang berhasil merebut dan menggulingkan Khalifah Abbasiyah terakhir, kemudian mengangkat dirinya sebagai Khalifah serta pelindung kota Makkah dan Madinah, dua kota suci umat Islam di Arab. Dan, ibukota Turki, Istambul, merupakan lembaga kekuatan pollitik bagi dunia Timur.

Di tahun 1924, terjadi pergantian kekuasaan di Turki. Kaum nasionalis di bawah pimpinan Mustafa Kemal Attaurk selanjutnya memegang tampuk pemerintahan. Dan, kebijakan baru yang dijalankan adalah penghapusan sistem pemerintahan berdasar Islam serta menghapus sistem Kekhalifahan.

Kebijakan itu selain menimbulkan kegoncangan di Turki sendiri juga menimbulkan pro dan kontra di kalangan umat Islam sedunia. Kemudian, untuk menegaskan kembali sistem Kekhalifahan, Raja Saud dari Saudi Arabia mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan suatu Kongres Islam sedunia di Makkah pada tahun 1926.

Kongres tersebut dimaksudkan untuk membicarakan masalah Kekhalifahan. Wakil dari Indonesia (waktu itu masih bernama India Belanda) yang hadir adalah H.O.S. Tjokroaminoto (Partai Sarekat Islam) dan K.H. Mas Mansoer (Muhammadiyah).

H. Agus Salim sebagai pelopor gerakan Pan Islamisme kemudian juga memimpin Muktamar Alam Islamy Far’ul Hindis Syarqiyah (MAIHS) sebagai cabang dari Muktamar Alam Islamy di Makkah. Kantor MAISH ini berkedudukan di Surabaya.

Kongres Al Islam Sedunia yang kedua selanjutnya diadakan di Makkah pada tahun 1927, namun kongres ini dianggap gagal karena tidak tegas menentukan apakah organisasi yang didirikan setahun sebelumnya akan dilanjutkan atau tidak. Dan, Agus Salim sebagai wakil Indonesia datang terlambat ke kongres tersebut, dimana ia kemudian mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam yang masih berada di Saudi Arabia.

Sebagia hasil dari pendekatan yang dilakukan oleh Salim, berdirilah suatu organisasi bernama Al Ansar Al-Haramain. Dan, Sarekat Islam dipercayakan untuk menyusun program serta peraturan penyebarannya ke seluruh dunia Islam. Namun, menurut H. Aqib Suminto, ”…bahwa Al Ansar Al-Haramain yang didirikan sesudah kongres ini, meniliki namanya bertujuan untuk membela Makkah dan Madinah,.. di sini Nampak jelas tidak ada kaitannya dengan Khalifah atau Pan Islam”.

Masalah Pan Islamisme ini kemudian tidak diperhatikan lagi oleh partai, seiring dengan berkurangnya perhatian dari negeri-negeri Islam lain tentang masalah tersebut.

sumber : adaptasi dari buku Grand Old Man of The Republic.

About the author

matapadi

Leave a Comment