Beberapa orang purnawirawan TNI yang berdinas antara tahun 1960 hingga 1970-an, mengingat bahwa Resimen Pelopor – Menpor, merupakan sebuah satuan yang memiliki perlengkapan terhitung istimewa pada zamannya. Pada saat pelaksanaan Operasi Trikora, misalnya, hanya Menpor yang menggunakan senjata baru berbahan fiber, sesuatu yang baru pada saat itu. Pada tahun 1961, Resimen Pelopor mulai menggunakan senapan organik AR-15.

Ketika itu, banyak satuan-satuan Angkatan Darat masih menggunakan senjata M1 Garrand sebagai senjata organik. Dan senjata yang dibawa satuan-satuan itu pada umumnya masih menggunakan bahan kayu. Bahkan, ketika RPKAD dan Marinir mulai menggunakan senjata AK 47 dari Rusia yang didatangkan ketika Operasi Trikora, senapan buatan Rusia ini masih menggunakan bahan utama kayu dan besi.

Posisi unik Korps Brimob ketika itu memang menguntungkan. Di satu sisi, korps ini merupakan salah satu korps kesayangan Presiden Sukarno, terbukti sampai tahun 1965 banyak Kompi Brigade Mobil yang masuk dalam Resimen Tjakrabirawa, satuan elit pengawal presiden.

Namun demikian, perputaran sejarah juga menyebabkan korps Brimob juga memiliki kedekatan dengan Amerika Serikat, sehingga dengan mudah mereka dapat memperoleh senjata maupun perlengkapan tempur dari negara adi daya itu.

Kesediaan AS untuk menguji coba senjata barunya, AR 15, untuk pasukan di luar pasukan khusus AS adalah berkat kedekatan pejabat Kepolisian RI dan Korps Brimob dengan pemerintah AS. Bahkan pasukan AS yang bertugas menjadi pengamat di Vietnam ketika itu masih menggunakan senapan peninggalan PD II seperti; US Carabine, M1 Garrand, dan Thompson.

Penggunaan senjata AR 15 dimulai pada awal 1961 ketika pasukan Pelopor mendapatkan pengumuman penggudangan senjata lama dan penggunaan senjata baru. Mereka hanya diberi tahu bahwa setiap anggota wajib melakukan zero (percobaan) senjata baru ini.

Pada saat melihat senjata baru tersebut, mereka merasa kagum karena senjata ini tidak terbuat dari kayu maupun logam, melainkan fiber (beberapa purnawirawan Menpor menyebutnya sebagai plastik). Bahan dasar yang ringan ini membuat senjata baru tersebut bisa mengambang di atas air. Setelah masing-masing memegang senjata tersebut, barulah kemudian mereka mengetahui jika nama senjata baru itu adalah AR 15.

Penggunaan AR 15 ini juga mengubah teknik penembakan dalam tim Menpor. Dengan senjata lama US Carabine yang semi otomatis, tembakan lebih mudah diatur. AR 15 adalah salah satu senjata otomatis dengan fungsi menyerupai karabin, namun mempunyai jarak tembak yang sama dengan bren MK 3.

Setiap tim Menpor harus bersenjata sama, yaitu AR 15. Hal ini berbeda dengan masa-masa sebelumnya, di mana dalam setiap tim ada dua personel yang membawa Carl Gustav, dua personel membawa bren MK 3, dan 4 personel membawa US Carabine.

Sehingga seiring dengan pergantian senjata, terjadi juga perubahan aturan penembakan dalam setiap tim Menpor. Para prajurit yang tadinya bertugas sebagai penembak Carl Gustav dan penembak bren MK 3 tetap menggunakan teknik menembak otomatis penuh, hanya saja mereka sekarang menggunakan AR 15. Sementara untuk prajurit penembak US Carabine harus tetap menggunakan irama tembakan 2-2, namun dengan menggunakan senapan AR 15.

Mulai saat itu, semua anggota Menpor memanggul senjata AR 15, sebuah senjata yang saat itu dianggap sangat canggih. Hal ini juga menambah kebanggaan setiap anggota Menpor.

Artikel : adaptasi dari buku Resimen Pelopor Pasukan Elite yang Terlupakan.
Keterangan foto : Pasukan Menpor dalam salah satu sesi latihan menempuh kualifikasi Bala (rimba laut) di Pelabuhan Ratu. Foto repro dari jurnalsrigunting.wordpress.com.

About the author

matapadi

Leave a Comment