Artikel Peristiwa Sejarah Tokoh dan Pemikiran

ISLAM DAN KOMUNISME DI NUSANTARA.

Written by matapadi

Marxisme di Hindia-Belanda diperkenalkan oleh H.J.F.M. Sneevliet melalui ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeneging) tahun 1914. Setelah gagal menjalin kerjasama dengan Insulinde, Sneevliet mendekati Semaun. Kebetulan Semaun dipindahkan dari Surabaya ke Semarang dan menjadi pimpinan cabang Sarekat Islam (SI) di sana.

Dengan mendompleng SI, dari sini marxisme disebarluaskan. Sementara itu, Sneevliet juga berusaha memperkenalkan marxisme di lingkungan Angkatan Darat kerajaan Belanda. Akibatnya Sneevliet diusir dari Hindia-Belanda (1920).

Perkembangan ini kemudian diikuti dengan perubahan nama ISDV menjadi Perserikatan Komunis di Hindia dan pada tanggal 23 Mei 1920, berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1920 pula, PKI secara resmi menjadi anggota Komunis Internasional (Komintern).

Sedangkan permusuhan antara golongan Islam dengan komunis pada tahap awal dimulai ketika PKI mengadakan konggres di Bandung, tanggal 4 Maret 1923. Dalam acara itu Konggres mengecam habis-habisan SI.

Semaun mengecam bahwa SI didirikan demi kepentingan pembentukan modal nasional. Haji Misbach dari Surakarta bahkan mengatakan bahwa orang Islam yang tidak menyetujui ajaran-ajaran komunis bukanlah muslim sejati. Ia hendak menyindir bahwa pemimpin-pemimpin SI ketika itu menggunakan agama sebagai kedok untuk memperkaya dirinya.

Kecaman ini di samping menyinggung pemimpin-pemimpin SI, juga menunjukkan kurangnya pemahaman Semaun terhadap perkembangan komunis internasional. Sejak tahun 1920, Komitern telah menggariskan dasar perjuangan agar kaum komunis di mana pun mengadakan kerjasama dengan kaum borjuis setempat dan berusaha untuk menguasai para pimpinannya.

Lebih daripada itu, kecaman-kecaman dalam konggres di Bandung itu menjadikan SI (kelak Partai Sarekat Islam Indonesia-PSII) dan PKI sebagai musuh bebuyutan. Permusuhan golongan Islam dengan komunis juga dipicu pernyataan kader-kader komunis lainnya, seperti pernyataan yang dilontarkan oleh Ali Archam, bahwa gerakan yang berdasarkan keagamaan tidak dapat hidup langsung karena gerakan itu pada hakekatnya merupakan usaha membentuk kaum kapitalis nasional yang berkaliber kecil.

Sementara terhadap organisasi yang berdasar pada kebangsaan, dikatakannya bahwa ”gerakan seperti itu tidak dapat tumbuh karena gerakannya tidak berdasar ekonomi”. Pernyataan seperti ini menimbulkan rasa sakit hati dan menunggu saat yang tepat untuk suatu pembalasan.

Dalam kongres PKI, 31 Agustus 1924, yang sedianya akan diadakan di kota Yogyakarta, tidak dapat berlangsung akibat kekacauan yang ditimbulkan oleh pengikut-pengikut BU, SI, dan Muhammadiyah.

Ketika Semaun dan Darsono masih berada di Rusia, Tan Malaka terlibat dalam pemogokan pegawai rumah gadai. Pemogokan itu mengalami kegagalan karena persiapan yang belum matang dan atas tindakannya Tan Malaka akhirnya dikenakan hukuman buang.

Tan Malaka kemudian diminta untuk memilih, dibuang ke Kupang atau ke luar negeri. Dan akhirnya Tan Malaka lebih memilih dibuang ke luar negeri dengan pergi ke Rusia. Dalam Konggres Komintern di Leningrad tahun 1922, Tan Malaka menyumbangkan pengalamannya tentang gerakan komunis di Indonesia. Dikemukakan pikirannya sebagai berikut.

”……… bahwa di Indonesia SI mendapat sambutan baik dari kalangan rakyat. Perjuangan SI bersifat nasional. Kegagalan Partai Komunis di Indonesia disebabkan karena ISDV tidak meletakkan dasar perjuangannya atas nama rakyat. Jika ISDV menghendaki kesuksesan di kemudian hari, dasar perjuangan perlu diubah, disesuaikan dengan kepentingan nasional”.

Pemikiran dari Tan Malaka ini tidak mendapat perhatian, dianggap menyimpang dan menyeleweng dari doktrin Komintern. Akan tetapi, pemikiran seperti ini secara konsisten nantinya akan terus dipegang teguh oleh Tan Malaka, sehingga aliran politiknya ditempatkan dan dinamai sebagai Komunis Nasional.

 

 

Referensi ; Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesi; Kemunculan Komunisme Indonesi; Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Nationalism and Revolution in Indonesia, Tan Malaka Pergulatan Menuju Republik 1897-1925. Atau lihat juga selengkapnya di buku Revolusi Elite di Jawa Timur.  Segera!!!

 

Foto : Semaun dan Darsono. repro dari buku De Communistische Beweging in Nederlandsch-Indie.

About the author

matapadi

Leave a Comment