Artikel Sejarah Tokoh Tokoh dan Pemikiran

ORANG ORANG KALAH, (5) MOHAMMAD NATSIR.

Written by matapadi

Buya Hamka ingat betul kesan pertama bersua dengan Natsir. Hamka mengenang;

“Di waktu itu saya bertemu seorang pemuda sebaya saya, tetapi lebih tampan dari saya. Wajahnya tenang, simpatik, selalu senyum dan berkaca-mata. Tingginya sedang, sikapnya lemah-lembut. Apabila kita bicara dengan dia, butir-butir pembicaraan kita beliau perhatikan dengan seksama, kemudian bila beliau tidak setuju atau berlain pendapat, beliau nyatakan komentarnya, nampaknya sambil lalu, tetapi dengan tidak kita sadari, komentarnya itu telah menyebabkan kita harus meninjau pendapat kita tadi dengan seksama.”

***

Dua penguasa telah membuatnya demikian, dikalahkan-mengalah, dicekal dan dipenjara. Sukarno dan Suharto menuduh Natsir sebagai pembangkang dan pemberontak. Namun begitu, tak lantas dia menjadi pendendam, dan tak menghalangi nilai nilai persahabatannya sebagai sesama manusia.

Perdebatannya dengan Sukarno dan Aidit misalnya, tentang orientasi politik tak membuatnya menjadi pendendam. Ia tetap akan melakukan pembelaan terhadap mereka dengan landasan landasan nilai kemanusiaan. Bahkan Aidit, ketika menjadi lawan debat yang begitu panas di Majelis Konstituante tentang dasar negara, ia tetap akrab makan siang sate ayam bersama Aidit. Bagi Natsir, tetap berjuang dan berpolitik baginya adalah berdakwah.

Natsir begitu konsisten dengan jalan politiknya. Dia juga mendorong dalam perjuangan diplomasi semestinya pemerintah tegas dalam menunujukan kedaulatan dan martabat. Pemikiran yang begitu tajam dan mempesona, mampu melampaui masa masanya.

Pada tanggal 3 April 1950, ia mengajukan ‘Mosi Integral’ dalam sidang pleno parlemen. Hatta, sebagai Wapres merasa terbantu denga adanya mosi ini. Mosi ini juga yang memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam NKRI yang sebelumnya berbentuk Serikat, Natsir kemudian diangkat menjadi perdana menteri oleh Presiden Sukarno pada 17 Agustus 1950.

Setahun kemudian ia mundur dari jabatannya, karena perselisihan paham dengan Sukarno. Sukarno yang menganut paham nasionalisme, mengkritik Islam sebagai ideologi seraya memuji sekularisasi yang dilakukan Mustafa Kemal Ataturk di Kesultanan Utsmaniyah, sedangkan Natsir menyayangkan hancurnya Kesultanan Utsmaniyah dengan menunjukkan akibat-akibat negatif sekularisasi.

Natsir juga mengkritik Sukarno bahwa dia kurang memperhatikan kesejahteraan di luar Pulau Jawa. Menurut Hatta, sebelum pengunduran diri Natsir, Sukarno selaku presiden sekaligus ketua PNI terus mendesak Manai Sophiaan serta para menteri dan anggota PNI di Parlemen untuk menjatuhkan Kabinet Natsir, dan tidak mendukung kebijakan-kebijakan yang diusulkan oleh Natsir dan Hatta.

Selama era Demokrasi Terpimpin, ia terlibat dalam pertentangan terhadap pemerintah yang semakin otoriter dan bergabung dengan PRRI setelah meninggalkan Pulau Jawa; PRRI yang menuntut adanya otonomi daerah yang lebih luas disalahtafsirkan oleh Sukarno sebagai pemberontakan. Akibatnya, ia ditangkap dan dipenjarakan di Malang dari tahun 1962 sampai 1964, dan dibebaskan pada masa Orde Baru pada tanggal 26 Juli 1966.

Dimasa awal Orde Baru, ia berjasa mengirim nota kepada Tunku Abdul Rahman dalam rangka mencairkan hubungan dengan Malaysia. Selain itu pula, dialah yang mengontak pemerintah Kuwait agar menanam modal di Indonesia dan meyakinkan pemerintah Jepang tentang kesungguhan Orde Baru membangun ekonomi.

Pada tahun 1980, Natsir kemudian ikut pula menandatangan Petisi 50 bersama dengan Nasution, Hoegeng, Ali Sadikin, Sanusi Hardjadinata, SK Trimurti dan Burhanudin Harahap. Dalam petisi itu meraka menolak pemahaman bahwa Suharto merupakan pengejawantahan dari dasar negara Pancasila, sehingga setiap orang yang mengkritik Suharto akan dianggap sebagai penentang Pancasila.

Natsir juga menolak kecurigaan Suharto terhadap partai-partai, terutama partai Islam. Dan Opsus (Operasi Khusus) yang berada di bawah pimpinan langsung Suharto juga ikut dikritisi. Padahal, badan intel inilah yang meminta Natsir dalam memulai hubungan dengan Malaysia dan Timur Tengah setelah naiknya Suharto.

Kesederhanaan, kebersahajaan dan keterbukaannya patut menjadi teladan. Ketika menjabat sebagai menteri jasnya bertambal, dan kantong kemejanya bernoda hitam karena tinta. Dia juga menolak sisa dana taktis dan lebih memilih disumbangkan ke koperasi pegawai. Dan dia pun tetap memilih mobil pribadinya, DeSoto, yang ia peroleh dari keringat dari kantong pribadinya dari pada menggunakan mobil Chevy Impala sebagai hadiah.

…..

Sumber foto : pahlawancenter.com.

referensi: Seratus tahun M. Natsir; Berdamai dengan Sejarah, Membongkar Manipulasi Sejarah,  dan sumber lainnya.

About the author

matapadi

Leave a Comment